10 hari di Singapura? Negara yang mungil itu? Apa nggak bosan?

Kalau mau jujur sih sebelum riset di Cak Google saya juga berpikiran sama, tapi setelah berselancar jauh di dunia maya, rasanya 10 hari itu masih kurang. Saya menemukan banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Membuat saya ingin memperpanjang masa tinggal saya di Negeri Singa itu.

Singapura mampu memaksimalkan potensi yang mereka punya dengan mengandalkan inovasi yang out of the box. Salah satunya kawasan Marina Bay Sands. Tadinya saya pikir tempat ini sekadar mall besar yang cocok buat shopping doang, but this place is more than that.

Ada hotel dengan kolam renang yang pemandangannya wow banget, spot kuliner yang banyak menawarkan cafe dan restoran bernuansa cozy, kasino, skypark, light show dan gedung pertunjukan. Paket komplit ini tentunya nggak bisa dijelajahi hanya dalam satu hari. Semua spot wajib dijelajahi karena menawarkan keelokannya sendiri. Tinggal pilih yang sesuai dengan tipe liburan dan kebutuhan kita. Kalau saya sih karena bawa Raihana, lebih memilih tempat yang ramah bayi atau setidaknya yang nggak akan bikin dia bosan menemani bundanya belanja.

Ada Apa di Marina Bay Sands

Setelah cuci mata ke beberapa toko di dalam pusat perbelanjaan, saya langsung tahu diri untuk tidak memaksakan keinginan belanja. Semata-mata karena nggak mau Raihana lama menunggu. Maklum saya punya kebiasaan jelek kalau lagi belanja, sering lama memutuskan dan ragu memilih, apalagi di sini banyak banget produk-produk yang menggoda iman. Kalau nggak ingat belinya pakai dollar singapura, rasanya pengen banget kalap belanja.

Saya memutuskan untuk fokus ke tempat-tempat yang cocok untuk ibu dan anak.

Digital Light Canvas Singapore

Digital Light Canvas. Saya lagi cari-cari food court saat menemukan tempat ini tanpa sengaja. Awalnya saya nggak ngeh kalau tempat ini wahana bermain bagi anak, karena cuma tampak seperti hall Kecil yang dibiarkan kosong. Sekilas nggak ada hal yang istimewa sih. Tapi, karena tampak banyak banget anak-anak yang berlarian di sini sambil tertawa geli, seperti main kejar-kejaran, langsung deh saya putuskan untuk masuk dan beli tiket seharga $5.

Tak lama, kami pun bergabung bersama bocah-bocah kecil itu. Saya sengaja menaruh Raihana di atas lantai dan membiarkan dia merangkak. Di usia 9 bulan Raihana sudah mulai belajar merangkak meski belum terlalu lancar dan cepat. Itu sebabnya saya selalu biarkan dia banyak-banyak melantai. Awalnya sih Raihana menolak saat saya lepas dari gendongan tapi setelah melihat kumpulan ikan yang berenang di lantai LED, ia pun mulai tertawa dan berteriak happy. Senyuman yang memperlihatkan dua gigi mungilnya pun masih terbayang sampai sekarang.

Digital Light Canvas ini tidak hanya membuat Raihana terpukau, tetapi juga saya. Sophisticated banget, melihat kawanan ikan di bawah kaki yang gemerlap bersama lampu kristal yang menjuntai dari langit-langit, atau lukisan seni kaligrafi yang tercipta bersama irama kaki yang membentuk mekarnya bunga. Sebuah inovasi yang brilian, menggantikan bentuk fisik dengan teknologi digital yang melahirkan wahana hiburan multidimensi. Rasanya jadi lupa waktu bermain di sini. Eitsss, Ini baru awal, karena ada satu hal lagi yang membuat saya jatuh cinta dengan MBS.

Art Science Museum. Kenapa saya ke sini? Alasanya sih karena tersesat, hehe. Setelah puas keliling di kawasan shopping centre saya coba mengekplorasi bagian luar MBS. Sekali lagi saya kagum dengan arsitektur gedung ini, pun environmentnya. Dari luar MBS kita bisa melihat beberapa icon kota singapura di antaranya, Merlion Park, Helix Bridge, Singapore Flier, Esplanade, dll. Terlihat banget kalau kawasan ini memang dibangun seelok mungkin dengan perhitungan yang tepat. Saking excitednya, saya pun jadi nyasar ke sebuah gedung yang berbentuk bunga lotus.

Ok, setelah tahu ini Art Science Museum saya nggak merasa terlalu tertarik juga sih. Soalnya ada kata museum, dan di pikiran saya setiap membayangkan kata museum itu pasti boring. Mungkin karena waktu kecil museum yang selalu saya kunjungi isinya memang rata-rata membosankan dan nggak inovatif.

Saya mengecek bagian informasi dan berkunjung ke beberapa laman google, langsung tertarik dengan “Future World :Where Art Meets Science“. Sebenarnya ada beberapa exhibition di gedung ini tapi yang paling diminati ya si Future World ini.

Ruang pertama yang saya masuki adalah section nature. Black waves. Pas masuk sini masih rada bengong sih, mencoba mereka-reka rasa dan rupanya. Lambat laun saya terbawa suasana, mendengar bunyi ombak, merasakan semilirnya angin dengan temaramnya lampu. Pergerakan garis-garis ini memberikan kesan seakan airnya hidup.

Walaupun nggak nyata tapi semua imajinasi saya pindah tempat, saat itu juga. Raihana pun sepertinya tahu apa yang saya rasakan, dia ikut senyum-senyum manis sambil memegang ombak “jadi-jadian” yang ada di dinding. Kami pun terbawa suasana.

Di sini saya tidak hanya menikmati karya seni tetapi juga kecanggihan teknologi yang membuat pengunjung seolah ikut dalam dimensi yang ditawarkan. Art, science dan teknologinya kawin banget. Futuristik!

Art Science Museum

Tidak hanya di bagian nature section lain seperti Town, Park, dan Space juga menyihir seluruh panca indera di tengah samudera virtual. Saya berjanji suatu hari nanti akan kembali ke sini membawa putra pertama saya, Everest. Dia pasti senang mengeksplorasi banyak hal. Seperti anak-anak lainnya yang begitu bersuka cita meluncur di fruit field, memainkan light ball orchestra dan menggambar penghuni lautan di Sketch Aquarium. Semua bebas berimajinasi, menembus batas dan menikmati euforianya sendiri.

Memasuki Future World bagi saya sama seperti memecahkan misteri. Setiap ruangnya memberi pengalaman tersendiri. Seperti kata Eyang Albert Einstein, “The most beautiful thing we can experience is the mysterious. It is the source of all true art and science.”

So, bagi yang ingin menghanyutkan diri di alam semesta digital dan suka sama karya seni virtual, ya tempat ini recommended banget.

‘Till I see you again, Future world!

Share This