Sejujurnya, saya sudah teramat sering mengunjungi negeri tetangga berkepala singa dan berekor duyung ini. Mulai dari singgah sebentar, hingga bermalam dua hari. Paling seringnya sih transit di bandara Changi yang super nyaman, ketika masih bertugas sebagai jurnalis.

Singapura memang tidak asing di telinga orang Indonesia. Awalnya saya pikir, Singapura itu segitu aja. Negara kecil yang dikelilingi laut dan tak punya apa-apa. saya hanya mendengar harumnya surga perbelanjaan di negeri ini. That’s why, saat kali pertama saya mendatangi lion city ini saya langsung menyambangi Orchard Road.

Singapura – tahun 2007

Tak banyak yang saya beli, hanya sebuah jam. Itu pun tak sengaja ketika melihat sebuah etalase toko yang saya lewati. Hebatnya jam yang saya beli sebelas tahun lalu itu masih bekerja dengan baik dan tetap awet sampai sekarang. Hanya sesekali tukar tali dan baterai saja. Saya ingat betul, saya membelinya dengan harga Rp.1.500.000,- setelah hampir satu jam proses tawar menawar dari harga Rp3.000.000,-. (Soal menawar ini memang bakat sih)

Saya masih ingat saat sedang menawar, rekan kerja saya (juru kamera yang juga ditugaskan ke Singapura bersama saya) sempat mengomel karena kami terlalu makan waktu di satu tempat saja. Maklum lah, daripada terbawa mimpi saya memintanya untuk menunggu yang ternyata tidak sebentar itu. Saat akhirnya jam itu melingkar manis di tangan saya, rekan kerja saya hanya tertawa sambil geleng-geleng melihat kelakuan saya. Kami pun kemudian buru-buru mengejar kunjungan ke tempat lain karena sebenarnya kami cuma punya waktu setengah hari sebelum ferry yang akan kami tumpangi dari Singapura ke Batam, kembali bersauh.

Di benak saya, Singapura memang surganya belanja yang pasti akan membuat wanita tergila-gila dan para laki-laki “gila” beneran (karena mungkin harus mengeluarkan biaya lebih untuk pasangan mereka). Waktu itu semua produk yang dipajang di foto nyaris belum banyak tersebar di Indonesia. Harganya ya lumayan dibanding langsung beli ke Eropa. Ya, singapore, is all about shopping.

Setelah melewati banyak jebakan yang menggiurkan dari deretan toko yang saya lalui, ada satu yang menarik, penjual es krim pakai gerobak, namanya es krim Uncle. Saya dan juru kamera yang kebetulan berasal dari daerah yang sama, Sumatera Barat, spontan tekejut dan tertawa girang membeli potongan es krim dengan balutan sepotong roti tawar. Di daerah kami banyak penjual es macam ini. Harganya one cent only. Sambil mengunyah es krim kami pun punya pertanyaan yang sama, kenapa masih ada yang jual es krim konvensional di kawasan semegah ini. Sungguh sebuah kesederhanaan masa lalu yang kontras dengan pemandangan mewah di sekitar kami. Anyway, pengalaman makan es krim Uncle sangat lekat di ingatan dan rasanya masih terkenang sampai sekarang.

Setelah sebelas tahun berlalu, saya kembali berkunjung ke Singapura. Cara pandang saya terhadap Singapura pun menjadi berbeda. Ada hal-hal yang dulu sempat luput dari perhatian saya. Negeri ini mengajarkan saya tentang banyak value hidup yang tidak hanya terlukis dari gedung pencakar langitnya, tetapi juga sendi-sendi yang membuat tiang pancangnya kokoh tertanam di bumi. Singapore is more than a sophisticated town! It’s a treasure island.

Dan penemuan “harta” baru inilah yang akan saya bagi, sebentar lagi!

 

Share This