Keinginan saya untuk kembali travelling sebenarnya sudah lama membabi buta. Sejak menyelesaikan buku ketiga saya (Islah Cinta) awal tahun 2017 lalu, saya sudah lama ingin “istirahat” sejenak. Menarik napas dan kembali menyerap sari-sari kehidupan di luar sana. Jiwa saya butuh energi baru, dan travelling adalah cara yang saya pilih untuk menemukan nutrisi itu. Sayangnya keinginan itu harus saya tunda karena saya hamil dalam waktu bersamaan dengan lahirnya buku itu.

Dan setelah cukup lama tertunda, cita-cita itu terwujud.

Travelling kali ini begitu istimewa, karena rekan perjalanan saya kali ini bukan lagi juru kamera atau rekan sekantor lainnya, melainkan Raihana. Putri kedua saya yang masih berusia 9 bulan ini tampaknya akan menjadi penjelajah seperti ibunya. Dia begitu menikmati perjalanan dan tidak rewel. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Belajar dari mengasuh anak pertama, saya selalu menghindari pergi berlibur dengan kondisi jauh. Takut dan Repot, itu alasan pertamanya. Saya selalu membayangkan betapa nanti saat cuaca dan kondisi tidak sesuai keinginannya dia mungkin akan tantrum atau dia mungkin akan rewel selama di pesawat. Tapi, dengan saran dokter dan masukan dari teman-teman, saya pun memberanikan diri untuk mengubah stigma. Saya nekat mencoba mengajak Raihana ikut serta di dalam perjalanan yang akan saya ciptakan. Modalnya, Hanya dengan berpikiran positif.

Sebelumnya saya melatih diri dengan mengajak Raihana dalam berbagai event menulis. Saya selalu membawa Raihana di setiap kegiatan, membiasakannya dengan perjalanan. Dan setelah teruji di banyak medan, Raihana tidak pernah gelisah dan tetap anteng, saya pun memutuskan, gadis kecil ini sudah siap untuk dibawa dalam misi travelling saya.

Singapura menjadi percobaan pertama. Selain dekat dari Indonesia, cuaca dan makanannya juga masih bersahabat. Pertanyaannya, apakah Singapura bisa menjadi tempat liburan yang mengasyikan bagi saya dan Raihana?

Modal tekad dan keyakinan saja tidaklah cukup, ada hal yang tetap harus disesuaikan saat travelling bersama baby. Apalagi saya akan menetap di sana selama 10 hari. Itu artinya tidak hanya menyesuaikan schedule dengan wants and needs-nya Raihana, tapi juga tempat-tempat yang saya kunjungi. Berbekal riset sebelum berangkat, ada beberapa tempat yang ingin sengaja saya perlihatkan kepada Raihana. Walaupun memang kebanyakan sih obsesi ibunya, haha.

Singapore Zoo

Jungle breakfast

 

Sarapan bareng hewan yang berkeliaran di area Ah Meng Restaurant dan bisa melihat orang utan dari dekat. Itu yang membuat saya datang ke Singapore Zoo. Saya ingin mengenalkan kepada Raihana aneka jenis hewan yang benar-benar bisa dilihatnya dari dekat. Saya pikir ini sensasi yang berbeda.

Benar saja, di Singapore Zoo untuk pertama kalinya saya bisa langsung menyaksikan penghuni kebun binatang yang menyerupai habitat aslinya tanpa merasa takut. Bahkan saya bisa berjalan-jalan sambil mendorong stroller, melintasi aneka kandang hewan buas seperti singa atau harimau dengan rasa nyaman dan relaks. Sesekali hewan melata melintas di depan saya sambil mengeluarkan suara desisan atau membiarkan gerak ekornya hilang ditelan rerimbunan. Fasilitas transportasi seperti tram juga tersedia di kebun binatang ini, jadi pengunjung tinggal pilih sesuai kebutuhan.

Oh ya satu hal yang masih berkesan saat di tempat ini, ketika saya bisa memberi makan jerapah dengan jarak sejengkal tangan. Raihana juga menikmati momen berkeliling menyaksikan aneka satwa. Apalagi saat bertemu si Putih pollar bear “Inuka”, dia begitu excited meski dibatasi etalase.

 

Merlion Park

Iconic dari negara Singapura yang satu ini tampaknya masih belum pudar meski banyak banget icon terbaru yang mengelilingi patung setengah singa dan setengah duyung ini. Mulai dari Singapore Flyer yang tampak dari kejauhan, Esplanade (gedung theater dengan bangunan atapnya yang berbentuk kulit durian), Marina Bay Sands Hotel dengan design berbentuk kapal yang sedang mengangkasa, atau background skyline gedung-gedung perkantoran di Raffless Landing Site.

Rupa dari seluruh icon itu bisa dilihat langsung di Merlon Park.

Well plan, itu yang ada di benak saya saat melihat pemandangan yang terbentang. Mungkin karena lahan Singapura semungil itu sehingga semua yang dibangun benar-benar dibuat seefektif mungkin.

Satu hal yang menghipnotis saya melangkah ke tempat ini, karena sejarah yang melekat di patung putih itu sendiri. Dari sejarah Melayu yang saya baca, penemu Singapura, Pangeran Sang Nila Utama yang berasal dari kerajaan Sriwijaya di Sumatera-lah yang menamakan negeri ini. Pangeran yang datang pada abad ke-11 M, melihat seekor binatang seperti singa yang melintas di pulau yang dulunya tak bertuan. Sedangkan ekor ikan sang Merlion diambil dari perumpamaan kota kuno Temasek (dalam bahasa Jawa berarti laut). Seolah menggambarkan asal muasal singapura yang tadinya hanya sekadar kampung nelayan biasa. Siapa yang menyangka akan jadi sekeren sekarang?

Foto di tempat ini ya wajiblah, udah datang pagi-pagi pula. But unfortunatelly, sepertinya saya memang salah prediksi sih. Saya pikir kalau berangkat pagi, mataharinya belum terlalu terik dan biasanya belum crowd banget. Tapi jam 9 di Singapura, itu udah lumayan mataharinya terutama buat baby ya. Apalagi saya tidak membawa perlengkapan seperti payung dan kacamata hitam, jadi ya silau banget. Belum lagi turis asing juga banyak yang datang ke sini pagi-pagi dengan membawa rombongan besar. Saat itu, kebanyakan sih turis Chinesse ya yang datang. Ada juga beberapa rombongan dari Indonesia.

Raihana sih nggak rewel bahkan dia sempat ketiduran sebelum sesi foto-foto yang harusnya memasang senyum bahagia karena emaknya sudah berhasil mengenalkan sesuatu yang mungkin akan diingatnya nanti. So, better lebih enak kalau datang ke tempat ini menjelang sore sembari membawa makanan atau cemilan.

Fasilitas untuk bersantai di sini ok banget, karena ada undakan anak tangga yang memadai untuk berseluncur kaki atau duduk bersandar menanti malam.

Oh iya, karena masih penasaran sama suasana Merlion Park di sore hari, saya pun kembali datang bersama Raihana setelah puas tour dengan Singapore Cruise River. Saya memilih turun di Merlion Park sambil menunggu matahari tenggelam.

Kampong Glam “Heritage Trail”

Mengunjungi kampong glam, termasuk list wajib saya saat di singapura. Berkeliling di kawasan ini bisa lupa waktu. Banyak banget tempat yang bisa dikunjungi. Mulai dari street cafe, restaurant dengan aneka selera, boutique, toko-toko souvenir, dan tentu saja Masjid Sultan. Jadi nggak salah sih kalau Kampong Glam bisa dibilang icon wisata singapura yang must visit banget, apalagi bagi pecinta sejarah kayak saya. Rasanya pengin berulang kali menjejakkan kaki ke tempat ini, berbaur dengan penduduk lokal, bercakap dengan penjual makanan, duduk bercerita di kedai chai sambil menanti waktu azan menyapa. I’ll never get enough.

  • Masjid Sultan

Saat saya datang di akhir Maret 2018 lalu, pas banget dengan euforia dari masjid ini yang akan merayakan 200 tahun usianya. Treasure banget kan!

Saya datang menjelang salat Jumat dan langsung menaiki lantai tiga dari bangunan beraksitektur gothic Mughal ini. Suasana di dalam masjid sangat kental dengan perpaduan warna hijau dan kuning yang mencolok. Khas melayu. Setahu saya sih, hanya suara azan di Masjid Sultan yang mempunyai pengeras suara dari 71 masjid yang ada di Singapura. Itu pun hanya saat salat.

Satu hal yang menarik dari Masjid Sultan ini adalah value yang dimilki saat pembangunannya. Ketika itu komunitas muslim melayu saling bahu membahu untuk mendirikan rumah ibadah. Tidak hanya kesultanan melayu dan muslim kaya saja yang berkontribusi tapi juga kaum kurang mampu yang ikut menyumbangkan kumpulan botol kecap yang disematkan di bawah kubah berbentuk bawang. Mungkin dulu botol kecap itu sangat tak berarti, pun kini. Tapi keinginan yang kuat untuk berkorban dengan harta yang tak bernilai itu pantas untuk diapresiasi.

  • Haji lane

Iconic dan etnik. Itu sih yang ada di kepala saya saat menyusuri lorong haji lane. Jajaran toko-toko berlantai dua di sepanjang kanan dan kiri jalan yang saya lewati seolah membawa saya ke suasana Singapura tempo dulu tapi dengan aroma masa kini. Bangunan tua dan kuno masih dipertahankan tapi suasananya disulap menjadi modern dan bercita rasa seni. Selera anak muda banget. Ditambah dengan hiasan mural di sepanjang dinding Haji Lane yang keberadaanya tak bisa diprediksi. Mural ini jadi daya tarik utama untuk dijadikan latar foto yang instagramable.

 

Kalau mau hunting fotonya, enaknya datang kesini sih pagi hari karena belum terlalu terik dan masih sepi (tokonya belum banyak yang buka). Kalau saya sih memang ingin menikmati suasana berjalan kakinya sambil gendong Raihana yang nggak henti mengoceh dan tertawa.

  • Bussaroh Street dan Arab Street

Kawasan Kampong Glam memang dikenal sebagai pusat komunitas Islam Melayu. Hampir di setiap sudut jalanan dipenuhi street cafe dari yang ikonik, futuristik, klasik, bahkan historical. Tinggal pilih yang halal dan sesuai selera. Nah makanan bernuansa autentik Timur Tengah juga ada lho. Misalnya Arab, Maroko, Yaman, dan Turki. Kebanyakan tempat makan di Singapura sudah meraih penghargaan Michelin Star. Kemarin saya sempat mencicipi beberapa restoran Michelin itu. Jangan tanya lagi deh rasanya, Michelin banget! Dan satu hal yang bikin saya respect, justru ke pelayan restorannya. Bila tahu kita muslim mereka akan jujur bilang bahwa cafe atau restoran yang kita masuki tidak halal. Walaupun nggak memesan pork tapi peralatan masaknya tidak sesuai dengan standart halal. Kayaknya orang Singapura sangat aware dengan hal ini. Jadi liburan di Singapura nggak perlu takut dan bingung nyari makanan halal, anywhere, You Can Lah.

Di Kampong Glam saya juga menyempatkan datang ke sebuah toko parfume bernama Jammal Kazura. bagi pecinta parfume dan ingin memiliki wangi parfum yang sesuai personality dan non alkohol, Jammal Kazura menjadi sebuah pilihan berwisata. Tidak hanya mendapatkan wangi parfum idaman tapi juga bisa mempelajari latar belakang sejarah komunitas muslim di Singapura yang berpadu dengan segala etnik budaya. Saya juga baru tahu Bahwa aroma parfum itu menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Singapura dan komunitas muslim di negeri itu.

Oh ya rasanya nggak nyesel ngobrol lama dengan peracik parfum yang berusaha menggali kepribadian saya. Setelah saya cium wanginya, hmm suka banget! Satu lagi, selain halal, wanginya tahan lama.

Tetiba saat mau beranjak pulang, mata saya tertuju pada toko yang terletak di tengah jajaran Restoran Bussaroh Street. Dari tampilan luar sih, toko buku ini terlihat cozy. Nggak nyangka aja bisa ketemu toko buku Wardah di tengah riuhnya suasana Kampong Glam. At the end, saya mengajak Raihana masuk ke dalam. Koleksi buku di bangunan berlantai dua ini bisa dibilang tidak terlalu banyak tapi judul-judulnya cukup menggoda. Saya akhirnya memilih sebuah buku dari Rumi. Sebenarnya sejak pertama kali masuk Raihana langsung memegang buku ini dan pas saya lihat isinya, unik juga. Buku ini bukan tentang kumpulan puisi tetapi buku yang memadukan kartun dengan ajaran Islam yang dikhususkan untuk anak-anak. Di dalamnya banyak bercerita tentang kebaikan dengan kata-kata khas Rumi dan bahasa yang ringan. Ya kenang-kenangan lah. Sedari dini saya memang berniat mengenalkan Raihana dan kakaknya dengan buku. Berharap, mereka akan menjadi anak yang gemar membaca dan mencintai buku.

Setelah puas menikmati wisata dengan pancaran matahari khas Singapura, saya pun beralih ke sebuah icon wisata lain yang nggak kalah famous.

  • Chinatown

Hampir setiap negara yang pernah saya kunjungi selalu ada chinatown-nya. Mungkin benar kali ya, kalau orang China itu memang ada di mana-mana. Kalau saya sendiri memilih datang ke tempat ini, bukan hanya tertarik dengan identitas yang dimiliki tetapi juga mau melihat langsung bagaimana sebuah akulturasi bersinergi. Meski namanya chinatown tapi ada beberapa rumah ibadah beberapa agama yang bisa ditemukan di tempat ini. Ada masjid, kuil Hindu dan Budha. Sayang, saat saya datang, kawasan chinatown diguyur hujan deras. Gerak saya pun jadi terbatas karena memikirkan Raihana yang tertidur pulas di gendongan. Tapi saya sudah cukup puas menyusuri lorong-lorong khas di jalanan etnik ini. Oh ya, sebagai pecinta tokoh kartun TinTin, saya cukup amaze menemukan toko yang menjual atribut TinTin di sini. Saya langsung ingat Everest (anak pertama saya), karena TinTin juga tokoh kartun Favoritnya. Saya berjanji kalau ke Singapura lagi, saya pasti akan menyempatkan datang ke TinTin Shop bersamanya.

Hujan di chinatown sudah sedikit reda. Berganti dengan gerimis yang masih membasahi jalanan kota. Saya memutuskan untuk pulang karena udara malam semakin dingin menusuk tulang. Kasihan Raihana kalau harus terlalu lama diterpa angin malam.

Sebagai penyempurna malam, saya pun memutuskan pulang ke hotel, dinner berdua bersama Raihana. Angan saya pun melayang, menembus malam, menerobos hujan yang makin lama kembali deras tercurah ke bumi. Di taksi yang saya tumpangi, sepanjang perjalanan dari chinatown menuju Farrer Park hotel tempat saya menginap,ada sesuatu menyelinap dalam dada. Sebuah rasa tentang singapura yang mulai menjalari ruang di hati saya.

Share This