Membuat mantan menyesal karena telah meninggalkan kita, itu adalah sebuah kemenangan. Memiliki itu gampang tapi mempertahankanya yang sulit. Klise memang tapi it’s true! Ayo siapa yang pernah merasakan?

Saya? pastilah, kalau nggak mana mungkin bisa nulis sekian ratus halaman. Upss ketahuan. Sengaja sih biar yang merasa jadi mantan, baca. hahaha!

Masalahnya bagaimana bila kemenangan itu tak sepenuhnya utuh karena ada rasa lain saat senyum tersungging? Rasa tentang sebuah harapan yang telah lama hilang dan kembali datang?

Bodoh!

Tidak perlu mendengar, apalagi membenarkan makian orang lain, tapi pahamilah getaran hati sendiri. Apakah mungkin nasi yang sudah menjadi bubur, berapa tahun silam harus digoreng lagi? Direbus? Atau dipanggang? Emang enak makan yang sudah basi?

Ah masa iya kembali pada orang yang sama, sedangkan keledai bodoh saja tak akan mau jatuh ke lubang yang sama?

Kamu?

Lalu bagaimana menyikapi mantan yang kembali di saat kita sudah tak lagi “membutuhkannya”?

Bagaimana mengubah rasa benci yang terselubung di hati menjadi keikhlasan yang dinikmati?

Apakah mungkin cinta pada kesempatan kedua dengan cara mendua itu adalah sebuah “kesalahan” yang boleh dihakimi banyak orang?

Katanya cinta itu Tuhan yang beri, jadi mana mungkin bisa salah?

Ayo, bingung kan?

Mau tahu jawabannya?
Akan kuberi tahu di lembaran buku ini. Tentang sebuah cinta yang meminta kesempatan kedua. Dan kamu tidak akan sedih lagi…, lagi dan lagi!

Baca pakai hati ya, karena di situlah hakikatnya cinta!

Share This