Sebuah moment yang berarti dari perjalanan saya dan Raihana ke Singapura adalah semakin eratnya hubungan kami. Konon, segala yang terjadi dalam hidup kita itu bisa dipengaruhi oleh pikiran kita sendiri. So, dengan tekad mengatur mood yang positif, saya berhasil melalui perjalanan bersama Raihana selama 10 hari di Singapura dengan happy.

Apa sih yang didapat seorang bayi berusia 9 bulan saat travelling bersama ibunya? Bukannya  bayinya masih terlalu kecil dan masih ringkih? Nggak Capek? Nggak rewel? Ribet kan?

Semua pertanyaan di atas sebenarnya bukan sekali dua kali saya dengar. Hampir setiap orang meragukan keseriusan saya travelling bersama Raihana. Termasuk keluarga dan teman terdekat. Mereka paham betul sikap saya saat awal menjadi ibu dan bagaimana memperlakukan Everest, putra pertama saya.

Saat putra pertama saya itu lahir saya menjadi Ibu yang sangat “menyebalkan”. Gampang panik dan lebay menghadapi anak. Mungkin proses yang saya jalani untuk menjadi ibu yang butuh perjuangan yang amat lama membuat saya amat protektif terhadap Everest. Belum lagi saat lahir ternyata putra kesayangan saya itu punya asma. Penyakit kambuhan yang saya sendiri belum pernah mengalaminya.

Saya masih ingat bagaimana setiap hari dihantui pikiran negatif dalam mengasuh Everest. Selalu ada pikiran-pikiran buruk yang menghantui, membuat saya harus selalu mengecek dan meyakinkan bahwa Everest baik-baik saja dan nyaman setiap waktu. Sesuatu yang justru tak nyaman bagi saya.

traveling with kids

Positive thinking, itu cara saya memperbaiki keadaan. Saat dikaruniai putri cantik, saya bertekad untuk menjadi ibu yang lebih baik. Saya tidak akan bersikap terlalu berlebihan, dan saya juga berjanji akan lebih tenang dalam menghadapi setiap hal baru yang saya temui. Karena konon ketakutan kita itu sebenarnya bisa dirasakan oleh si anak. Kini saya mencoba bersikap lebih tenang dalam mengasuh kedua buah hati saya. Tak ada lagi bayangan-bayangan ketakutan akan begini dan begitu.

Keinginan saya untuk berpikir positif kembali menghadapi tantangan. Adalah perjalanan saya ke Singapura bersama Raihana yang membuat ketakutan itu muncul kembali. Kebiasaan lama seperti kekhawatiran kalau nanti setiba di sana semua rencana tidak selancar yang diinginkan, khawatir Raihana sakit atau rewel, membayangi masa persiapan perjalanan saya. Tapi dengan keinginan kuat untuk menjadi orangtua yang lebih berpikir positif, saya pun memberanikan diri berangkat dengan segala alat tempur alias perlengkapan untuk Raihana.

Pada saat keberangkatan, saya terus menjaga mood saya agar tetap positif. Travelling yang saya lakoni ini bukan murni jalan-jalan tapi juga dengan tujuan mulia membuat vlog untuk content pertama di channel youtube.

traveling with kids dini fitria

Untuk yang belum tahu, saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran dan membuat channel sendiri untuk berbagi inspirasi. Dengan keputusan ini, saya bisa lebih fleksibel mengatur waktu untuk menjalani passion tanpa banyak menyita waktu saya untuk buah hati.

Konon, segala yang terjadi dalam hidup kita itu bisa dipengaruhi oleh pikiran kita sendiri. Karenanya, dengan tekad mengatur mood yang positif, saya berhasil melalui perjalanan bersama Raihana selama 10 hari di Singapura dengan happy.

Saya bisa melihat ekspresi lelah di wajah Raihana. Seringkali dia tertidur pulas dalam gendongan karena tidak bisa melulu rebah di kasur hotel. Saya pun berusaha memenuhi kebutuhan nutrisi Raihana, memastikan dia  tidak kekurangan asupan gizinya selama di perjalanan. Selama dalam perjalanan saya akan terus mengobrol dengan Raihana, menjelaskan ini dan itu, semua tentang yang kami jalani saat itu. Raihana tampaknya paham. Dia akan tersenyum dan tertawa mendengar saya mendongeng. Bayi kecil saya ini begitu kooperatif dan bisa diajak kompromi. Saya merasa bersyukur dia bisa diajak bekerja sama saat syuting vlog berlangsung bahkan dia seolah sudah tahu, sebagai “artisnya” harus ikut kece juga, haha.

Me and Baby Raihana

Salah satu hal yang berarti dari perjalanan kami ke Singapura adalah semakin eratnya hubungan kami. Saya terus bercerita pada Raihana meski dia tak selalu membalas ucapan saya. Kadang dia hanya tersenyum dengan mata bulat jernih yang menatap polos ke arah saya. Jika ada yang amat disukainya, seperti saat kami berkunjung ke kebun binatang Singapura, Raihana akan ketawa, berceloteh, menceritakan kegembiraannya dengan cara sendiri. Saat lelah dia akan berteriak, atau menangis memberitahukan kalau ada sesuatu yang membuatnya nggak nyaman.

Perjalanan ini membuat saya semakin mengenal putri kesayangan saya. Bahasa Raihana juga bisa dilihat dari ekspresi dan gerak tubuhnya. Mungkin itu yang dinamakan bounding. Rasanya tanpa perlu melihat pun saya sekarang sudah tahu apa keinginan Raihana.

traveling with kids dini fitria

Selain bounding, ada juga momen-momen perenungan yang kemudian menambahkan value baru dalam hidup saya. Kadang memang begitu yah, kita baru menemukan apa yang selama ini kita cari saat jauh dari rumah. Seperti kita mengenal rindu karena jauh dari yang kita cintai, belajar syukur berkat setiap pelajaran hidup yang kita lihat.

Perjalanan dengan segala momen melankolisnya seringkali membuat kita mengenang masa lalu. Entah kenapa masih ada beberapa peristiwa yang masih sering saya ingat dan belum bisa diikhlaskan (maaf, sejenak curhat). Saya sudah jauh melangkah dari masa yang saya tinggalkan, tapi kenangannya seolah enggan dilupakan. Namun, semua pikiran itu membuat saya jadi lebih mengenal diri. Saya mencoba menyikapinya dengan bijak. Berharap, kelak itu semua bisa menjadi modal membesarkan Raihana.

Di penghujung perjalanan saya, dengan segala sisa-sisa kesenduan setelah mengunjungi ruang kenangan dan rindu, saya terus bercerita kepada Raihana. Kelak, saya ingin bayi cantik saya ini akan selalu menjadi gadis baik yang tak pernah lupa berterima kasih, bekerja keras, dan tak sungkan menolong orang yang membutuhkan, dan selalu menghargai orang lain. Sesuatu yang sederhana tetapi sangat sering terlupa. Terutama bagi saya orang dewasa.

Mungkin terdengar simple, tapi banyak masalah yang datang dari hal-hal receh seperti ini. Saya mengingatnya saat datang ke negeri orang yang totally different from where I live. Pengalaman bertemu banyak orang barulah yang mengingatkan saya pada nilai-nilai sederhana yang sering terlupakan itu.

Dear Raihana, di dunia ini begitu banyak jenis orang. Mereka berbeda dan punya keunikan masing-masing. Kelak, kamu akan berkelana jauh, lebih jauh dari yang sudah Ibu jalani. Dan kelak kamu akan melihat bahwa yang membuat dunia ini bertahan hingga hari ini adalah cinta dan kasih sayang.

Singapore, Maret 2018

Share This