Bagi saya, menjadi ibu untuk kedua kalinya adalah sebuah rahmat yang tiada henti disyukuri. Saya selalu mencernanya dengan kebahagiaan dari segala simpul keajaiban yang dititipkan Tuhan atas segala asa di semesta raya.

Saya menyadari tidak mudah menjadi seorang ibu. Peran baru itu mengubah banyak hal dalam hidup saya. Memengaruhi banyak keputusan yang kadangkala tak sesuai dengan kata hati atau obsesi yang masih ingin diraih. Salah satu keputusan terbesar yang saya buat akhir 2017 lalu adalah berhenti menjadi karyawan kantoran dan menjelma menjadi full time mommy. Saya sengaja memilih keputusan itu karena bertekad mengurus baby tanpa bantuan pengasuh.

Hanya satu yang mungkin masih belum berubah. Keinginan saya untuk tetap bisa mengaktualisasikan diri sesuai dengan passion saya : menulis dan travelling.

Saya masih ingin mempunyai kesibukan yang membuat hidup saya seimbang. Dan, setelah melewati proses kehamilan, melahirkan, hingga putri saya genap berusia 9 bulan, saya pun mulai gelisah. Seperti butuh ruang sejenak untuk melepas penat. Saya mulai mencari seribu alasan untuk bisa keluar dari rutinitas dan “pergi sejenak”.

“Me time” bagi para ibu yang memiliki baby adalah kesempatan langka. Dan bagi saya, capaian lepas dari penat yang bisa saya raih adalah dengan “we time”. Karena “me time” hampir mustahil dengan Raihana yang begitu lekat dengan saya. Setidaknya keinginan travelling yang sudah tak terbendung, bisa terpenuhi.

Travelling bersama baby bukan sebuah pilihan yang mudah, tapi membuat rencana berjalan lebih mudah, itu sangat bisa dilakukan. Banyak hal yang harus disesuaikan antara kebutuhan ibu dan anak. Saya sendiri mengalami banyak kekhawatiran sebelum memulai perjalanan perdana saya membawa Raihana travelling ke luar negeri di usianya yang masih 9 bulan.

Saya pun memilih Singapura. Negri tetangga yang jaraknya sedepa dari Indonesia. Mengapa? Tentu banyak alasan yang membuat saya terpikat. Bukan sekadar soal dekat (khusus untuk ini, Saya akan membahasnya di artikel terpisah).

Sebelum petualangan dimulai, banyak kekhawatiran yang saya ciptakan. Pikiran negatif tentang hal-hal buruk yang akan terjadi berkelebatan di alam bawah sadar, hingga membuat anak seolah seperti seorang pesakitan. Itu terjadi pada anak pertama saya yang terlalu saya protect hingga menghilangkan sistem kepercayaan saya terhadap kehebatan anak itu sendiri. Laiknya orang dewasa, anak pun butuh dipercaya.

Lalu benarkah Raihana bisa diandalkan sebagai teman seperjalanan?

Di luar ekspektasi, perjalanan saya dengan Raihana membuat mata batin saya menjadi kaya. Anak seusia Raihana mengajarkan saya bagaimana pikiran positif, kesabaran, dan ketenangan itu sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki seorang ibu.

Raihana begitu manis. Dia sangat senang berada di dalam mobil dan melihat keluar jendela, sama seperti ia begitu antusias saat menaiki pesawat terbang pertamanya. Raihana terlihat sangat menikmati setiap momen, mungkin lebih dari yang saya rasakan. Ia mengoceh tiada henti, tertawa riang, dan sesekali berteriak kencang. Ia juga selalu melempar senyum kepada siapa pun yang menegurnya.

Tak heran banyak kejutan yang ia terima selama di perjalanan. Salah satunya karyawan Park Hotel Farrer Park, tempat saya menginap yang suka memberi “bonus” setelah sarapan atau makan malam. Kami menyebutnya “Uncle Hisham”, yang resmi menjadi teman baru Raihana.

Di lain situasi, Raihana tak rewel saat cuaca hujan dan panasnya Singapura yang datang silih berganti dalam hitungan jam. Malah sering tertidur pulas di dalam gendongan saat berjalan kaki atau menaiki moda transportasi apa pun. Ia juga bisa makan dengan lahap di mana saja dan dengan menu apa saja. Sesuatu yang tadinya sangat saya khawatirkan. Saya sangat merasa diberkahi membawa serta Raihana dan melibatkanya di dalam perjalanan ini sebagai teman bukan beban. Hasil dari we time ini membuat bonding saya dan Raihana semakin kuat. Meski lelah tapi saya merasa lebih sehat dan happy.

Saya ingat saat di Singapura kemarin banyak sekali kelucuan dan kepintaran yang sebelumnya tidak terlau saya hiraukan. Memainkan tanganya seolah sedang bermain cilukba. Melambaikan tangan saat berpamitan. Menyalami setiap orang yang mendekat. Merangkak dengan cepat dan merembet penuh kehati-hatian. Mengoceh dengan suara nyaring dan terkikik kegelian. Sesuatu yang berharga bila ibu menjadi orang pertama yang melihat setiap perkembangan anak tanpa terganggu oleh distraksi apa pun.

Travelling di Singapura juga membuat saya merasa nyaman dan aman. Tempat-tempat wisatanya yang ramah untuk ibu dan anak membuat perjalanan saya semakin menyenangkan. Salah satunya bisa menggunakan stroller di tempat-tempat umum atau jalanan kota. Satu hal lagi, entah kenapa saat berada di Singapura saya tidak merasa negeri ini sekecil yang dibayangkan. Setiap sudutnya menawarkan banyak tempat wisata dan pemandangan yang menakjubkan. Terasa semua ada dan sempurna. Taman-taman kota seperti Singapore Botanic Gardens yang disulap seperti hutan belantara, atau kebun bunga dengan air terjun di Garden By the Bay yang seolah bukan ciptaan manusia serta pertunjukan spektakuler lainya. Saya menyimpulkan bahwa Singapore is not only a small country but a place where passion and possibilities meet. Singapura memadukan art, science, dan teknologi tanpa melupakan tradisi dan sejarah bangsa.

Last but not least, bagi Raihana, mungkin momen ini tak sepenuhnya ia pahami. Saya pun hanya bisa berharap, semakin muda ia belajar tentang banyak hal semakin mampu tubuh dan hatinya menerima kebaikan. Semoga kelak ia akan menjadi penakluk dunia yang mau menghargai perbedaan, mencintai sesama dan bisa survive di mana pun berada.

Love u, Na!

Share This